Cari Blog

Artikel (12) Religi (3) Techno (3) Wisata (4)

Selasa, 12 April 2011

Jadi Pelaku atau Pengamat ?


Sebenarnya ini judulnya “jadi Pengamat atau Pelaku Sejarah”, tapi kayak kepanjangan hehehe

Ngumungin sejarah, ini kayak salah satu maple skul SMP dulu. Salah satu maple yang gak ku sukai, karena hampir semua materinya menghafal, lha otak q kan terlalu kecil untuk menghafal buku yang berlapis-lapis dan berwarna-warni hehehehe.

Eh, kembali ke pengamat dan pelaku. Keduanya saling berhubungan, karena dimana ada pelaku disitu pasti ada pengamat. Tapi, pelaku itu lebih baik daripada pengamat. Karena pelaku akan selalu jadi sorotan semua pihak sedsangkan pelaku hanya bisa mengomentari apa yang dilakukan pelaku. Mungkin kepingin tenar juga seperti si pelaku heheheh.

Ternyata hal tersebutlah yang membedakan pengamat dan pelaku. Dan yang membedakan keduanya tidak terlalu jauh, Cuma dalam hal cara mereka menanggapi suatu keadaan.

Seperti dalam hal bermain sepak bola. Ada penonton (pengamat) dan ada pemain (pelaku). Anggap saja si A adalah pemain bola yang terkenal, dan dalam suatu pertandingan dia mendapatkan peluang emas untuk memasukkan bola seprti mendapatkan tendangan pinalti. Penonton telah memberikan sorak-sorak dukungan untuk si A. Tapi si A gagal dalam mengeksekusi bola tersebut. Alhasil, penonton yang telah kecewa akan mengeluarkan segala caci maki dan hujatan kepada si A tadi. Namun bagaimana dengan si A?
Dia akan tetap bermain di pertandingan. Meskipun gagal dalam memasukkan bola, tp dia akn tetap di bayar sesuai gaji yang harus dibayarkan, beda dengan penonton yang menghujani caci maki tadi, dia akan mendapatkan tenggorokan yang kering, serak serta bibir ndower tanpa ada yang di bayar hehehehe.

Itulah beda pengamat dengan pelaku. Pelaku ditakdirkan untuk menorehkan sejarah, mereka yang membuat sejarah, mengeksekusi ide dengan tindakan. Sementara pengamat tugas pokoknya mengkritik, memaki, menyalahkan, walaupun sebenarnya jika mereka diberi wewenang yang sama dengan si pelaku untuk melakukan suatu pekerjaan, niscaya pekerjaan itu jadi tambah kacau.
Kalau dipikir-pikir masalah yang dihadapi pelaku dan pengamat bisa jadi sama. Meskipun masalah yang sedang diributkan sama tetapi respons kedua belah pihak berbeda jauh.

Jadilah pelaku sejarah, dan biarkan orang berkata apa karena mereka hanya tidak mampu untuk menjadi sesuatu yang besar, mereka hanya menggertak dan menakut-nakuti.
Pengamat bisanya hanya meneropong dari jauh, kalau yang dilakukan pelaku ada baiknya maka dia diam saja. Tapi ketika seorang pelaku melakukan kesalahan sedikit saja maka pengkritik itu telah bersiap meluncurkan senjata penghancurnya.
Pelaku pasti mencari respons atau hikmah positif dari tindakannya walaupun boleh dibilang 95% yang dia lakukan adalah kesalahan. Pengamat akan selalu melihat segi negatif dari apapun yang telah dilakukan oleh pelaku walaupun seluruhnya berupa kabaikan.
Dan sejarah tidak akan mengingat nama penonton tapi sejarah pasti menulis nama pemain. Tidak ada didunia ini seorang pengamat sejarah dikenal oleh dunia, yang ada pelaku sejarahlah yang namanya sering disebut.

“Sadarilah….ketika jari telunjukmu menunjuk orang lain, di saat itu jari-jarimu yang lain menunjuk pada dirimu sendiri….”

-- Sapi Ungu --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar