Cari Blog

Artikel (12) Religi (3) Techno (3) Wisata (4)

Kamis, 07 April 2011

SEBERAPA DEWASAKAH KITA?

Dewasa?

“Dewasa”, sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Kata yang mampu menyejukkan hati pendengarnya, mampu membuat mata betah berlama-lama terpaut pada penyandangnya. Dewasa selalu diidamkan oleh khalayak, terutama anak-anak. Apakah Anda termasuk salah satu orang yang mengidamkan kedewasaan? Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut bisa dijadikan salah satu indikator tingkat kedewasaan Anda.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan dewasa? Bagaimana seseorang dapat meraihnya? dan Kapan status tersebut dapat disandang oleh seseorang? Berikut akan dibahas secara singkat mengenai hal tersebut.

Standar baku

Sampai saat ini, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya perasaan, sikap, cara pandang, orientasi, usia (hal ini menyangkut aspek jasadiah) dan perilaku. Oleh karena itu, secara umum kedewasaan dapat dilihat dari bebrapa aspek, di antaranya:

ü       Dewasa secara fisik, indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah telah berfungsi secara optimal, atau secara singkat ketika seseorang telah mencapai baligh.
ü       Dewasa secara psikologis, indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
ü       Dewasa secara sosial-ekonomi, yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Selain hal-hal di atas, kedewasaan juga dapat dilihat dari beberapa hal, seperti:

ü       Kemampuan untuk ma’rifatunnafs (mengenali diri sendiri). Orang yang telah dewasa akan mengenali siapa dirinya, untuk apa ia dilahirkan di dunia ini dan apa tujuan hidupnya. Berbeda dengan orang yang belum dewasa, kondisinya adalah kebalikan dari hal yang telah disebutkan terlebih dahulu.
ü       Kemampuan menerima diri sendiri. Setelah mengenali diri sendiri, orang yang dewasa akan mampu memahami dirinya sehingga ia dapat menerima keadaan dirinya dan mampu menyikapi keadaan dirinya dengan baik.
ü       Kemampuan menerima orang lain. Selain mampu menerima keadaan dirinya sendiri, orang yang dewasa juga akan mampu menerima keberadaan orang lain dengan sikap simpati atau empati yang dimilikinya. Berbeda dengan orang yang belum dewasa, ia cenderung tidak akan dapat menerima keberadaan orang lain, terlebih jika orang tersebut berbeda karakter dengan dirinya.
ü       Kemampuan untuk memberi pengarahan kepada orang lain. Orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan akan dengan senang hati membagi ilmunya dengan orang lain, karena ia akan berpikir bahwa ilmu akan semakin berkembang jika ia sebarkan juga ke orang lain. Lain halnya dengan orang yang belum dewasa, ia akan cenderung pelit akan ilmu karena khawatir merasa rugi jika ilmunya ia bagi dengan orang lain. Singkatnya, ia akan merasa takut tersaingi.
ü       Kemampuan berpikir dan  bertindak mandiri, berani menyuruh dan melarang diri sendiri, tahu tugas dan tanggung jawab, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Orang yang telah mencapai kedewasaan, akan mampu menggunakan akalnya dengan baik, sehingga ia akan tahu betul mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Indikator Tidak Dewasa

Selain mengetahui indakator kedewasaan, maka perlu pula diketahui beberapa indikator ketidakdewasaan, di antaranya

ü       Emosional. Salah satu hal yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak adalah dalam berprilaku. Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak, kemudian akhirnya merasakan. Sementara orang dewasa, ia akan berpikir terlebih dahulu, bertindak, kemudian baru akhirnya ia akan merasakan. Artinya, orang yang dewasa akan bersikap tenang, penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan, ia tidak akan terjebak oleh emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan semata. Tidak akan ditemukan orang dewasa yang emosinya meledak-ledak tanpa terkontrol. Bagaimana dengan Anda?
ü       Egois. Egois merupakan ciri dari seseorang yang belum dewasa. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang belum dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois, tentu saja ia tidak menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois seseorang, semakin jauh ia dari pencapaian kedewasaan.
ü       Tidak konsisten. Dasar dari seseorang yang dewasa adalah konsisten. Sikap sebaliknya adalah indikator seseorang belum dewasa, artinya ketika seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang merusak komitmen sebelumnya, maka orang tersebut belum dapat digolongkan ke dalam orang yang dewasa.
ü       Tidak tepat janji. Kedewasaan seseorang juga dapat diukur dari perkataannya. Bila perkataannya dapat dipegang dan dipercaya, maka kedewasaannya teruji. Akan tetapi jika perkataan yang dikeluarkannya hanya sekedar kata tanpa bukti nyata, bahkan dengan mudah ia ingkari maka itu merupakan ciri ketidakdewasaan seseorang.
ü       Tidak bertanggungjawab. Sebagai hamba, manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dilakukannya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Rasa tanggung jawab ini hanya ada dalam pikiran orang dewasa. Ketika didapati ada orang yang bingung dengan tanggungjawabnya dan sering mencari kambing hitam untuk melimpahkan tanggung jawab ini, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan telah dewasa.
ü       Suka bersembunyi. Setiap manusia tentu akan akan dihadapkan pada masalah dalam hidupnya, masalah-masalah yang datang tersebut tidak jarang akan muncul dalam bentuk yang sangat sulit, sehingga mencapai tahap yang sangat kritis. Pada saat kritis, saat itu pulalah kedewasaan seseorang diuji. Orang yang belum dewasa akan memilih lari dari masalah tersebut dan bersembunyi, sementara orang yang dewasa akan mengahadapi masalah tersebut seberat apapun ia merasakannya.
ü       Hanya merespon ketika ada paksaan. Orang yang belum dewasa adalah orang yang merespon hanya ketika ada paksaan atau tekanan. Ketika ia mendapatkan seruan yang sifatnya ajakan saja, jarang ia akan meresponnya. Ia akan merespon ketika ada imbalan yang akan diberikan kepadanya, baik itu berupa hadiah jika merespon atau sanksi jika tidak melaksanakannya.

Kedewasaan seseorang tidak didapatkan begitu saja, ada hal-hal yang melatarbelakangi tercapainya kedewasaan. Kedewasaan memerlukan pembiasaan dan hanya akan tercapai jika seseorang membiasakan diri dengan hal-hal yang menuntunnya pada kedewasaan. Uraian di atas merupakan sebagian dari sekian banyak yang dapat dilakukan atau dicegah seseorang untuk mencapai tingkat kedewasaannya. Selanjutnya, Allah SWT akan menganugerahkan kedewasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan usaha masing-masing individu.

Tunggu apa lagi? Mari kita berlomba-lomba menjadi sosok yang benar-benar dewasa!

“Tua adalah sebuah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan” (Anonim)

Di manakah Anda akan memposisikan diri? Apakah beranjak semakin tua dengan kedewasaan yang makin meningkat, atau beranjak semakin tua tanpa diiringi kedewasaan? Tentukan pilihanmu sekarang!

Wallahu’alam bishawab

Sumber: http://tutorialpai.mkdu.upi.edu/?p=153

Tidak ada komentar:

Posting Komentar